Program Kegiatan yang sedang Dijalankan KAI tahun 2017

Tanggal Diperbarui : 15 Agustus 2018 15:47:37


Peradaban transportasi Indonesia memasuki babak baru sejak hadirnya layanan kereta bandara. Bertajuk Kereta Api Bandara Kualanamu, layanan kereta api untuk pertama kalinya terkoneksi ke bandara, tepatnya Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara. Transportasi yang terintegrasi  ini akan hadir di daerah lain, pasalnya KAI telah ditugaskan oleh pemerintah untuk menghadirkan pelayanan yang serupa, diantaranya KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta, KA Bandara Internasional Minangkabau, KA Bandara Adi Soemarmo Boyolali, dan KA Bandara Kulon Progo Yogyakarta.

Transportasi perkotaan pun menjadi perhatian Pemerintah dan KAI pun dilibatkan dalam pengembangannya, diantaranya LRT Palembang, LRT Jabodetabek, juga KA antar perkotaan seperti KA Trans Sumatera. Kepercayaan Pemerintah terhadap KAI untuk berkontribusi dalam pembangunan transportasi nasional tidak hanya di Pulau Jawa dan Sumatera. KAI juga telah terlibat dalam pengembangan kereta api Trans Sulawesi.

Selain pembangunan KA Bandara dan LRT, PT KAI bekerjasama dengan BUMN Karya yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk mengembangkan kawasan berkonsep Transit Oriented Development (TOD)TOD adalah salah satu solusi kepadatan ibukota, dengan harapan lahan yang digunakan untuk TOD ke depannya lebih luas sehingga dapat mengakomodasi lebih banyak orang.

Berikut program kegiatan yang sedang dijalankan KAI tahun 2017:

Pengembangan KA Bandara Soekarno Hatta (Perpres 83/2011)

KA Bandara Soetta akan beroperasi dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Bandara Soetta melewati Stasiun Sudirman Baru, Duri, dan Batu Ceper sebagai stasiun pemberhentian. Total jarak yang dilintasi adalah sepanjang 36,3 km yang terdiri dari 24,2 km jalur eksisting dan 12,1 km jalur baru baru dengan total pengadaan 10 train set. Kereta Basoetta akan beroperasi setiap hari mulai pukul 04.00 sampai dengan pukul 00.00 WIB. Kapasitas tempat duduk sebanyak 272 dan hanya melayani penumpang sesuai jumlahnya. PT Railink selaku operator menerapkan sistem nontunai untuk pembelian tiket kereta bandara dengan kisaran harga Rp100 ribu-Rp150 ribu. Calon penumpang dapat melakukan pembelian tiket melalui vending machine, internet booking, dan aplikasi mobile. Nilai proyek KA Bandara Soetta mencapai 2,6 T. Sementara untuk target penumpang di tahun 2019 mencapai 12,02 juta penumpang. KA Bandara Soetta akan diuji coba pada November 2017 dan akan beroperasi di awal tahun 2018. Tujuan pembangunan jalur KA bandara ini antara lain untuk meningkatkan pelayanan moda transportasi KA khususnya untuk melayani angkutan penumpang dari Jakarta ke Bandara Soetta melalui Kota Tangerang.

 

Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek (Perpres 49/2017)

LRT akan dibangun dalam 2 Tahap dengan total jarak sejauh 82,0 km yang terdiri dari Tahap I sejauh  43.5 km (saat ini project dalam progress pekerjaan) dan Tahap II sejauh 38.5 km. Tahap pertama meliputi Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, dan Cawang-Dukuh Atas. Sementara, tahap dua yakni Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah Grogol. Nilai proyek untuk LRT Jabodebek adalah  Rp26,7 T, dengan rincian Prasarana Rp20 T, Sarana Rp5,4 T dan Interest During Construction (IDC) Rp1,3 T. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) akan bertindak sebagai Kontraktor, dengan pembayaran dari KAI secara termin. KAI sendiri akan bertindak sebagai penyelenggaraan pengoperasian prasarana, perawatan prasarana dan pengusahaan prasarana termasuk Pendanaan pembangunan prasarana LRT. Target operasional dari proyek ini adalah pada kuartal II tahun 2019.

 

Transit Oriented Development (TOD)

Transit Oriented Development (TOD) merupakan prinsip perencanaan kota yang mengedepankan kepadatan ruang yang tinggi (High Density) dan pengembangan mixed-use yang terintegrasi dengan kekuatan sistem transportasi. Radius optimal kawasan TOD yaitu 400-800 meter dari titik transportasi. TOD merupakan misi pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan program sejuta rumah dan mengurangi angka backlog perumahan. TOD ini sendiri adalah Sinergi BUMN antara PT PP, PT KAI, Perum Perumnas, PT Waskita Karya, PT Hutama Karya dan PT Wijaya Karya. Tujuan dari TOD adalah untuk mendekatkan jarak pengguna Kereta Api, menciptakan efisiensi biaya, waktu dan tenaga bagi pengguna transportasi, serta meningkatkan kualitas hidup di perkotaan. Stasiun Tanjung Barat dan Stasiun Pondok Cina adalah lokasi Proyek TOD hasil kerjasama Perum Perumnas dan PT KAI. Sedangkan PT PP Tbk akan mengembangkan properti berkonsep Transit Oriented Development (TOD) di 3 kawasan stasiun kereta di Jakarta. Tiga stasiun itu yakni Tanah Abang, Juanda dan Manggarai dengan memanfaatkan aset lahan milik KAI. Hunian Rumah Susun berkonsep TOD ini dibanderol dengan harga sekitar Rp7 juta – Rp9,2 juta per meter persegi atau Rp200 juta – Rp224 juta per unit untuk MBR dan sekitar Rp16 juta – Rp18 juta per meter persegi atau hingga Rp380 juta per unit untuk yang komersial (bukan subsidi). Uang Muka (DP/Down Payment) mulai dari 1% dan suku bunga cicilan sekitar 5% selama maksimal 20 tahun untuk MBR melalui Bank Tabungan Negara (BTN).