KAI Dapatkan Konsesi 50 Tahun untuk LRT Jabodebek

Tanggal Diperbarui : 14 November 2018 14:35:51


Dalam perjanjian tersebut, ditetapkan masa konsesi prasarana selama 50 tahun sejak pengoperasian pertama LRT Jabodebek. Artinya, selama 50 tahun sejak beroperasi prasarana LRT Jabodebek meliputi pengoperasian, perawatan dan pengusahaan diemban oleh KAI. Penandatanganan perjanjian ini menjadi landasan hukum bagi pihak-pihak dalam pelaksanaan penyelenggaraan prasarana dan sarana LRT Jabodebek. Edi Sukmoro berharap LRT bisa beroperasi tepat waktu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan penandatanganan perjanjian tersebut merupakan suatu kabar baik bagi dunia transportasi di Indonesia. "Karena saya yakin dengan suatu skema pembiayaan yang cukup solid dan juga dengan suatu pola-pola yang inovatif pasti ini memberikan suatu optimisme baru bagi kita di dunia transportasi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak," ungkapnya.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro, dan Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Budi Harto menandatangani perjanjian disaksikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi

 

Budi menjelaskan, dukungan pemerintah dalam proyek ini salah satunya menyiapkan penyertaan modal negara (PMN) baik kepada KAI maupun Adhi Karya. Selain itu, pemerintah akan mengalokasikan Public Service obligation (PSO) untuk LRT Jabodebek selama 12 tahun dengan nilai per tahunnya sekitar Rp 1-1,2 triliun sehingga totalnya mencapai Rp 14 triliun. “PSO diperlukan untuk menekan tarif sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat. Tarif yang sesuai dengan feasibility study (FS) adalah Rp25 ribu per penumpang. Tetapi, dengan adanya PSO, pemerintah menetapkan tarif LRT senilai Rp 12 ribu per penumpang,” ujar Budi.

Nilai investasi untuk penyelenggaraan prasarana dan sarana LRT Jabodebek yang dibebankan oleh KAI adalah sebesar Rp 29,9 triliun. Jumlah tersebut akan digunakan untuk pembiayaan aset prasarana, aset sarana, aset perawan prasaran sebesar Rp 25,7 triliun dan pembiayaan aset prasarana dan aset depo sebesar Rp 4,2 triliun. Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan setelah penandatanganan perjanjian konsesi, pihaknya akan melakukan financial dose dan pembayaran bagi Adhi Karya. Pada 22 Desember 2017, KAI akan menandatangani pinjaman dari pihak perbankan sebesar Rp 18,1 triliun. Namun, pinjaman itu akan cair pada pertengahan Januari 2018 sesuai dengan progres pengerjaan Adhi Karya hingga September 2017 pada tahap pertama. Besaran dana pinjaman yang akan cair pada tahap pertama, ujarnya, menunggu hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKB).

Untuk diketahui, penyelenggaraan pembangunan prasarana LRT Jabodebek mencakup lintas pelayanan Cawang - Dukuh Atas (11,05km), Cawang - Cibubur (18,49km) dan Cawang – Bekasi Timur (14,89km). Progres pekerjaan LRT Jabodebek per 8 Desember 2017 telah mencapai 26,2 persen dengan rincian progres pekerjaan Cawang – Cibubur 46,85 persen, Cawang – Dukuh Atas 12,36 persen dan Cawang – Bekasi Timur 26,95 persen. LRT Jabodebek ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2019.